Custom Search
Tampilkan postingan dengan label Logam Tanah Jarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Logam Tanah Jarang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 September 2020

MENGENAL CRITICAL RAW MATERIAL (CRM) – 10: MINERAL PEMBAWA LTJ (RARE EARTH)

Denny Noviansyah


Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Element (REE) adalah 17 unsur dalam kelompok lantanida yang terdapat dalam tabel unsur periodik. Logam Tanah Jarang terdapat sebagai mineral ikutan pada mineral utama seperti tembaga, emas, perak, timah, dan lain lain. Sebagai material ikutan dari mineral utama, jumlahnya sangat kecil dan jarang ditemukan, maka material atau elemen ini disebut Logam Tanah Jarang atau disingkat LTJ. LTJ bukan elemen logam bebas atau mineral murni secara individu.

 

Unsur LTJ, umumnya merupakan senyawa kompleks fosfat, alkaline dan karbonat. Upaya pemisahannya membutuhkan proses yang amat rumit. Unsur-unsur yang mendominasi dalam senyawa tersebut adalah lantanum, serium, dan neodimium. Pemanfaatan ketiga unsur LTJ ini sangat tinggi dibanding LTJ lainnya dan umumnya dipakai pada industri teknologi tinggi.

Sifat LTJ sangat khas, dan belum ada material lain yang mampu menggantikannya sehingga membuat LTJ menjadi material yang vital dan mempunyai potensi strategis. Unsur LTJ tersebar luas dalam konsentrasi rendah (10 – 300 ppm) pada banyak formasi batuan. Kandungan unsur LTJ yang tinggi lebih banyak dijumpai pada batuan granitik dibandingkan dengan pada batuan basa. Konsentrasi unsur LTJ juga dijumpai pada batuan beku alkalin dan karbonatit.

Berdasarkan asal mulanya, cebakan mineral LTJ dibagi dalam dua jenis, yaitu cebakan primer sebagai hasil proses magmatik dan hidrotermal, dan cebakan sekunder yang merupakan rombakan dari batuan asalnya yang telah diendapkan kembali sebagai endapan sungai, danau, delta, pantai, dan lepas pantai. Pembentukan mineral LTJ primer dalam batuan karbonatit menghasilkan mineral basnesit dan monasit Karbonatit sangat kaya kandungan unsur LTJ, dan merupakan batuan yang mengandung LTJ paling banyak dibanding batuan beku lainnya.

 

Kelimpahan LTJ Dalam Kerak Bumi dan Batuan Beku

Konsentrasi unsur logam termasuk LTJ untuk membentuk endapan ekonomis yang dapat dijadikan komoditas tambang dalam proses pembentukannya selain dipengaruhi faktor fisika dan kimia juga nilai kandungan unsur itu di dalam kerak bumi, karena semua proses pembentukan tersebut berlangsung dalam kerak bumi. Proses yang berlangsung baik dalam media larutan magmatis maupun fluida sisa magmatis (hidrotermal), akan membawa unsur- unsur yang ada dalam kerak dan terkonsentrasikan pada tempat tertentu sesuai kondisi lingkungan fisika dan kimia. Ketika magma naik ke arah kerak bumi, terjadi perubahan komposisi sebagai respon terhadap variasi tekanan, suhu dan komposisi batuan-batuan di sekelilingnya. Akibatnya terbentuk jenis-jenis batuan yang berbeda dengan variasi pengayaan unsur-unsur bernilai ekonomis, termasuk unsur-unsur tanah jarang.

Kelimpahan LTJ pada kerak bumi sebenarnya tidak tergolong terkecil bila dibandingkan unsur logam lainnya, bahkan ada yang hanya beberapa ppb seperti emas. Distribusi unsur LTJ dalam kerak bumi jauh lebih besar dibandingkan emas, hal ini terlihat dari nilai kandungannya hingga puluhan ppm seperti ditunjukkan sejumlah data pada Tabel 1.1.



Konsentrasi unsur LTJ pada proses pembentukan batuan berbeda-beda satu terhadap yang lain, karbonatit, kimberlit, batuan alkalin merupakan jenis batuan dimana kandungan LTJ termasuk yang paling tinggi (Tabel 1.2). Dengan demikian pencarian endapan LTJ ekonomis di lingkungan batuan ini lebih berpeluang dibandingkan pada lingkungan batuan lainnya.

 

Jenis Mineral Pembawa LTJ

USGS mempublikasikan beberapa laporan, terkait dengan potensi dan Deposit LTJ yang terkandung di dalam Deposit tersebut. Secara umum mineral jenis Carbonatite dan alkaline intrusive serta produk turunannya merupakan sumber utama REE. Adapun jenis mineral dan formulanya dapat dilihat pada tabel berikut ini: 


 


Sumber:

  • Brennan, Elliot, Rare Earth Elements: A critical strategic resource in Asia A Pacific Forum CSIS Monograph, 2014
  • Noviansyah, Denny, Logam Tanah Jarang, Bandung, Januari 2019
  • Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi, Potensi Logam Tanah Jarang Indonesia, Kementerian ESDM, Agustus 2019
  • USGS, Rare-Earth Elements: Critical Mineral Resources of the United States—Economic and Environmental Geology and Prospects for Future Supply, 2017
  •  USGS, Rare-Earth Element Mineral Deposit in the United States, 2019 
  • USGS, A Deposit Model for Carbonatite and Peralkaline Intrusion-Related Rare Earth Element Deposits, 2014

Senin, 14 September 2020

MENGENAL CRITICAL RAW MATERIAL (CRM) – 9: ZIRCONIUM

Denny Noviansyah


 


Zirkonium adalah logam putih keabuan yang jarang dijumpai di alam bebas. Ia memiliki lambang kimia Zr, nomor atom 40, massa atom relatif 91,224. Logam zirkonium digunakan dalam teras reaktor nuklir karena tahan korosi dan tidak menyerap neutronZircaloy merupakan aliase zirkonium yang penting untuk penyerapan nuklir, seperti menyalut bagian-bagian bahan bakar. Zirkonium banyak terdapat dalam mineral seperti zirkon dan baddelyit. Baddeleyit sendiri merupakan oksida zirkonium yang tahan terhadap suhu luar biasa tinggi sehingga digunakan untuk pelapis tanur.

 


Sejarah

Zirkon, batu permata, hadir dalam varietas biru, kuning, hijau, coklat, oranye, merah dan kadang-kadang ungu. Kata tersebut berasal dari bahasa Persia "zargun" atau warna emas. Zirkon telah digunakan dalam perhiasan dan dekorasi lainnya selama berabad-abad, menurut Peter van der Krogt, seorang sejarawan Belanda. Minerals.net mengungkapkan bahwa Zircon lebih menyerupai berlian daripada permata alami lainnya. Selama Abad Pertengahan, zirkon bahkan diyakini dapat menyebabkan tidur, meningkatkan kekayaan, kehormatan dan kebijaksanaan, serta mengusir wabah penyakit dan roh jahat.  Menurut chemiccol, terdapat beberapa fase penemuan zircon, yaitu:

-       Martin Heinrich Klaproth, seorang ahli kimia Jerman, menemukan zirkonium pada tahun 1789 dalam sampel zirkon dari Sri Lanka. Komposisi sampel itu ditemukan menjadi 25 persen silika, 0,5 persen oksida besi, dan 70 persen oksida baru yang dia namakan zirconerde (atau "zirkon bumi"). Klaproth juga kemudian menemukan zirconerde di jacinth, sejenis zircon kuning pucat, tetapi dia tidak dapat memisahkan logamnya.

-       Sir Humphry Davy, seorang ahli kimia Inggris, mencoba memisahkan zirconerde untuk mendapatkan zirconium murni pada tahun 1808 menggunakan elektrolisis, tetapi tidak berhasil, menurut Chemicool. Dia, bagaimanapun, menyarankan nama zirkonium untuk logam itu sendiri.

-       Jons J. Berzelius, seorang ahli kimia Swedia, mengisolasi zirkonium pada tahun 1824, menurut Chemicool. Ia menghasilkan zirkonium sebagai bubuk hitam hasil pemanasan tabung besi yang mengandung campuran kalium dan kalium zirkonium fluorida (Kr2ZrF6).

-       Royal Society of Chemistry mengungkapkan bahwa Anton Eduard van Arkel dan Jan Hendrik de Boer, ahli kimia Belanda, memproduksi zirkonium murni pada tahun 1925 dengan memanaskan zirkonium tetraklorida (ZrCl4) dengan magnesium. Metode ini menghasilkan batang kristal zirkonium murni.

 

 

 

Supply

Zirconium merupakan salah satu unsur di alam yang memiliki sifat tahan terhadap temperatur tinggi. Zirconium tidak terdapat dalam bentuk bebas di alam melainkan dalam bentuk zirconium silikat pada zircon (ZrSiO4) dan zirconium oksida pada badelleyit (ZrO2). Zirconium banyak didapatkan dalam batuan vulkanik, basalt, dan batuan granit. Mineral baddeleyit atau ZrO2 adalah bentuk zirconium dioksida alam. Zirconium terdapat pada banyak mineral zircon bervariasi dari 61% – 67%. Secara teoristik zirconium di dalam silikat normal sebesar 67.2%. Dalam jumlah sedikit zirconium terdapat pada banyak mineral seperti mineral titanat, tantolo niobat, Logam Tanah Jarang (LTJ), silikat, dan sebagainya.  

  • Pada tahun 2018, Total Penjual Zircon Global adalah sebesar USD 2,1 Billion. Dimana Lima jenis ekspor impor tertinggi antar negara adalah Sebagai berikut:
  • Australia ke RRT sebesar USD 377 Million
  • Afrika Selatan ke RRT sebesar USD 220 Million
  • Australia ke Malaysia sebesar USD 91,9 Million
  • Afrika Selatan ke Spanyol sebesar USD. 75,6 Million
  • Amerika Serikat ke RRT sebesar USD 72,6 Million

 



 

 

Penggunaan

Zirconium banyak digunakan dalam industri High-tech karena sifat mekanik, termal, elektrik, kimia, dan optiknya yang mendukung. Unsur ini banyak digunakan dalam produksi keramik dan reactor nuklir sebagai pelapis bahan bakar nuklir. Zirconium juga digunakan untuk pembuatan pompa, katup, dan penukar panas. Berdasarkan sifat ketahanan terhadap api, zirkonium sering digunakan sebagai komposisi utama peralatan perang, kotak sekring, dan terdapat pada peluru pyrophoric pembuka vakum, serta sebagai eksitasi laser pada photografi. Penerapan perpaduan zirkonium murni, seoerti perpaduannya dengan niobium akan menghasilkan super konduktor, perpaduannya dengan titanium digunakan pada pesawat terbang, dan perpaduannya dengan tembaga akan memperbaiki sifat zirkonium tersebut.

Berdasarkan ketahanannya terhadap korosi, logam zircon digunakan sebagai bahan tembahan pada pabrik pembuatan pompa, kran, pipa, alat penukar panas, dan tangki bahan kimia, terutama asam sulfat dan asam hidroklorida. Penggunaan logam zirkonum ini juga digunakan oleh pabrik penghasil ureahidrogen peroksida, metil metaklirat dan asam asetat. Zirkonium merupakan bahan yang mempunyai peran yang sangat strategis dalam berbagai industri karena keunggulannya jika dibandingkan dengan bahan lain.  

Berikut ini, beberapa aplikasi yang menggunakan Zirkonium:

-       Industri Gelas dan Keramik.

Industri keramik, berdasarkan volume, adalah pasar terbesar untuk zirkon yang mengkonsumsi lebih dari setengah zirkon yang diproduksi secara global. Sementara ini sekitar 85% Zirkon yang digunakan dalam industri keramik digunakan dalam produksi ubin, zirkon juga memiliki peran penting dalam pembuatan keramik tingkat lanjut. Di bawah ini adalah ringkasan dari beberapa aplikasi yang menggunakan zirkon dalam industri keramik, diantaranya adalah keramik tradisional, pigmen keramik, keramik lanjutan, bahan abrasive, alat pemotong, susceptor zirconia, konduksi ionic, implan medis dan perangkat biokompatibel, elektro-keramik



 

-       Industri Refraktori

Refraktori menggunakan Zircon, karena Zircon adalah bahan yang dirancang untuk menjaga kekuatan, kestabilan dimensi, dan ketahanan kimiawi pada suhu tinggi. Karakteristik tambahan berikut membuat bahan zirkon dan zirkonia ideal untuk aplikasi tahan api. Karakteristik tersebut diantaranya adalah : Kelarutan rendah dalam silika cair dan logam cair, Kelambanan kimiawi, Ketahanan terhadap korosi dan erosi,

Manfaat ini memungkinkan zirkon dan zirkonia digunakan dalam berbagai aplikasi tahan api, termasuk mortar tahan api, batu bata tahan api atau lapisan tahan api untuk tungku kaca dan logam serta serat, nozel, gerbang geser, katup, dan nat.

-       Aplikasi Kimia

Terdapat sejumlah aplikasi kimia zirkonia dan zirkonium sebagai bahan penolong pada industri utama dalam industri nuklir, atau dalam pemurnian gas dan amunisi. Selain itu, Zirkon juga digunakan dalam deodoran antiperspiran, atau digunakan sebagai pelapis untuk menambah kekuatan dan ketahanan air terhadap kertas, atau sebagai batu permata yang cemerlang. 

Di bawah ini adalah ringkasan singkat dari berbagai aplikasi kimia yang memanfaatkan sifat zirkonia dan zirconium, yaitu : batu permata, industri nuklir, pelapis titanium dioksida, kosmetik, kertas dan percetakan, cat dan tinta, katalisis, amunisi dan bahan peledak, pemurnian gas, Batu permata  



 

-       Industri lain yang menggunakan Zircon diantaranya adalah:

  • o    Chemical Process
  • o    Petrochemical
  • o    Oil & Gas
  • o    Pharmaceutical
  • o    Geothermal
  • o    Sea Water
  • o    Water Desalination
  • o    LNG (Liquefied Natural Gas)
  • o    Biomass
  • o    Mining
  • o    Utilities
  • o    Nuclear Power
  • o    Solar Power

 

 

Sumber:


 


Selasa, 08 September 2020

MENGENAL CRITICAL RAW MATERIAL (CRM) - 4 : SEJARAH

Denny Noviansyah

“The recent tight supply situation for energy, food and many raw
materials has also prompted a more general concern—that we may be
passing from an era of abundant supplies into one of constant shortages.”
July 1974, US Government (Nixon Administration)
Critical Imported Materials: Study of Ad Hoc Group Established by NSSM 197/CIEPSM 33

Belakangan ini, telah muncul ketegangan terkait kelangkaan alam sumber daya alam (SDA), baik sebagai bahan mentah, bahan baku, penolong maupun produk jadi. Dari sejarah peradaban manusia, kekhawatiran akan kelangkaan seperti itu sering kali berulang, terutama sebagai respons terhadap kondisi pasar yang ketat dan kenaikan harga. Penyebab mendasar dari pengulangan ini sebagian besar terletak pada karakteristik sumber daya industri ekstraksi. Biaya investasi yang tinggi dan waktu tunggu yang lama untuk persediaan baru yang akan datang, respon inelastis dan lamban terhadap perubahan permintaan dan harga, yang seringkali mengarah pada kemerosotan pasar dan lonjakan harga.


 


Merujuk kepada sejarah sektor energi dan pertambangan mineral dapat digambarkan adanya keterkaitan antara siklus pasar dan siklus politik, sering kali ketegangan ini terkait dengan topik ketersediaan sumberdaya. Siklus yang demikian juga menyebabkan pergeseran keseimbangan daya tawar antar konsumen dan negara produsen, serta antara pemerintah dan pasar yang terlibat dengan sumber daya ekstraksi, kondisi ini dilambangkan dengan prinsip tawar-menawar yang usang. Terkait hal ini, sejarah industri juga menjelaskan cukup jauh tentang kebangkitan periodik tentang nasionalisme sumber daya, sebagai peningkatan dari nilai moneter dari sumber daya untuk mengarah kepada politisasi dan kontrol SDA yang lebih besar. Menurut Buijs and ievers (2011), perhatian esensial sebagian besar SDA tetap sama dalam beberapa dekade terakhir, dengan fokus pada (potensi) dampak perekonomian dari gangguan pasokan, baik gangguan yang tidak disengaja atau disengaja dan adanya ketergantungan pada bahan impor tertentu yang bersangkutan.

 

 

Keterlibatan negara dalam sektor sumber daya, dapat dilihat perkembangannya, sebagai berikut

  • -          latar belakang kondisi politik Perang Dingin dan kekhawatiran tentang keamanan pasokan di tahun 70-an,
  • -          pasar globalisasi yang didominasi perusahaan di tahun 90-an.
  • -          akhir tahun 2000-an pendulum tampaknya berayun kembali ke arah peningkatan keterlibatan negara, setidaknya dalam diskusi tentang kebutuhan bahan mentah dan pasokan mineral. Kondisi ini mungkin mengarah pada peningkatan kontrol atau pengaruh negara atas sektor sumber daya. 

Perkembangan periode siklus keterlibatan dan penarikan negara dari sektor sumber daya dapat dijelaskan pada Gambar berikut ini: 



 

 

 

Sumber:

Buijs, Bram and Sievers, Critical Thinking about Critical Minerals: Assessing risks related to resource security, November 2011


Senin, 07 September 2020

MENGENAL CRITICAL RAW MATERIAL (CRM) - 1 (Laporan Eropa 2020)

Denny Noviansyah

Suatu material dikatakan kritikal jika: (i) material tersebut tidak memiliki pengganti atau substitusi, (ii) bila negara pengguna atau konsumernya harus mengimpor bahan bakunya, dan (iii) supply material didominasi oleh sedikit sekali produser.

Merujuk pada definisi tersebut, setiap negara dapat menentukan material apa saja yang menjadi CRM-nya dan jenis material ini dapat berubah seiring waktu berdasarkan kebutuhan. Setiap tahunnya kebutuhan akan material CRM terus bertambah seiring dengan pertumbuhan industri dan perkembangan menuju green revolution. Dahulu industri pertambangan hanya berfokus pada produk primer seperti timah, tembaga, nickel dan besi karena proses ekstraksi produk primer lebih mudah dan ekonomis dibanding material pada cluster CRM. Hal ini menjadikan material pada kelompok CRM akan berakhir di waste dump dan tidak terekstraksi lebih tepat guna. Namun seiring dengan kemajuan teknologi dan meningkatnya kebutuhan akan material yang ramah lingkungan, mineral-mineral pada kelompok CRM saat ini sudah mulai ditambang dalam jumlah yang cukup besar di beberapa negara. (www.IAGI.or.id)

 

Komisi Eropa, mengeluarkan laporan Study on the EU's list of Critical Raw Materials (2020), bahwa dengan meningkatnya tekanan pada sumber daya, yang disebabkan peningkatan populasi global, industrialisasi, digitalisasi, peningkatan permintaan dari negara berkembang mengakibatkan naiknya permintaan akan logam, mineral dan bahan biotik yang digunakan dalam teknologi dan produk rencah emisi. Persaingan Global untuk persaingan untuk sumber daya akan menjadi sengit dalam dekade mendatang. Ketergantungan terhadap CRM akan segera menggantikan ketergantungan pada minyak.

The EU Green Deal diadopsi pada 11 Desember 2019 lalu mengakui bahwa akses ke sumber daya sebagai pertanyaan keamanan strategis untuk memenuhi ambisinya menuju netralitas iklim 2050 dan meningkatkan ambisi iklim untuk tahun 2030. Pasokan terhadap bahan baku primer dan sekunder yang aman dan berkelanjutan, khususnya bahan baku penting, untuk teknologi utama dan sektor strategis sebagai energi terbarukan, e-mobilitas, digital, ruang angkasa dan pertahanan merupakan salah satu prasyarat untuk mencapai netralitas iklim.

Komisi Uni Eropa membahas tentang Strategi Industri baru terkait keamanan dan tantangan keberlanjutan serta Rencana Aksi CRM dan aliansi bahan baku berbasis industri. Kebijakan UE ini membuat strategi diversifikasi strategi untuk mengamankan bahan baku non-energi untuk rantai nilai industri Uni Eropa dan kesejahteraan masyarakat. Menyelesaikan masalah pasokan guna mengurangi ketergantungan di semua dimensi - dengan mencari bahan baku utama dari UE dan negara ketiga, meningkatkan pasokan bahan baku sekunder melalui efisiensi sumber daya dan sirkularitas, dan penemuan alternatif untuk bahan mentah yang langka.

Pada tahun 2020 telah dilakukan pengkajian terhadap 83 bahan material atau 66 calon bahan baku terdiri atas 63 individu dan 3 bahan kelompok, yaitu 10 Logam Tanah Jarang / LTJ Berat (HREE), lima bahan LTJ Ringan (LREE), dan lima logam golongan platina (PGM)). Lima bahan baru (arsenik, kadmium, strontium, zirkonium dan hidrogen).



 

Berikut ini disampaikan Penyedia CRM Utama, baik bahan baku secara individu dan secara kelompok. Dari jenis kelompok bahan baku dibagi atas Kelompok Logam Tanah Jarang Ringan (LREE), Logam Tanah Jarang Berat (Heavy REE), Platinum Group Metal (PGM).  

 

 

Pentingnya penyediaan CRM oleh Uni Eropa, disebabkan 3 (tiga) alasan, yakni:

-      Rantai Nilai Industri;

-      Industri Strategis;

-      Iklim, Energi dan Lingkungan;

 

Berdasarkan hasil analisis Working Group, telah diidentifikasi jenis CRM yang dibutuhkan Uni Eropa dan berasal dari Indonesia, yaitu sebagai berikut:

Tabel : Penyedia Global CRM yang berasal dari Indonesia

Material

 (% Share Global) dari Ekstraksi/Mining

 (% Share Global) dari Refining/Processing

Bauxite

7%

 

Cobalt

1%

 

Cooking Coal

 

<1%

Copper

3%

1%

Feldspar

5%

 

Gold

3%

 

Kaolin Clay

2%

 

Natural Rubber

24%

 

Natural Teak Wood

30%

 

Nickel

18%

2%

Silver

 

1%

Sulphur

 

1%

Tin

27%

19%

Sumber: Annex 6, Study on the EU’s list CRM (2020)


Sabtu, 05 September 2020

URGENSI PERATURAN PERUNDANGAN TENTANG LOGAM TANAH JARANG DAN CRITICAL MATERIAL GUNA MENYIAPKAN LANDASAN LOMPATAN PERTUMBUHAN DAN PEMERATAAN PEREKONOMIAN NASIONAL

Denny Noviansyah

Sumber: https://www.energy.senate.gov
Berbagai sumber informasi yang dihimpun dari jurnal ataupun media online menyatakan bahwa Logam Tanah Jarang (LTJ) memiliki peran yang strategis guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Oleh karena  itu pemanfaatan aplikasi LTJ tanah jarang tidak hanya menjadi sarana yang vital untuk digunakan pada berbagai macam produk industri, tetapi juga  pada gilirannya akan bermuara pada penguasaan dan pengembangan teknologi serta meningkatkan kualitas industri metalurgi bagi suatu bangsa.

Sehubungan dengan hal tersebut, aplikasi LTJ berpotensi besar untuk berkembangnya material baru yang memberikan sumbangan terhadap perkembangan teknologi, khususnya dalam teknologi ilmu material. Perkembangan material ini banyak diaplikasikan di dalam industri untuk meningkatkan kualitas produk industri. 

Contohnya adalah perkembangan yang terjadi pada magnet. LTJ mampu menghasilkan Neody magnet, yaitu magnet yang memiliki medan magnet yang lebih baik (magnet permanen) daripada magnet biasa. Dari magnet permanen ini berkembang teknologi seperti berat dan volume speaker (smartphone), dinamo yang lebih kuat sehingga mampu mengerakkan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) ataupun mobil bertenaga listrik untuk perjalanan jauh.  

Penggunaan Neody Magnet pada Turbin Angin (www.dailymail.uk)


Pemanfaatan LTJ mengantarkan Indonesia mewujudkan Lompatan Penguasan Teknologi yang mendukung Industri 4.0 (dan era Recovery pasca pandemic) sekaligus mendorong Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi Nasional. Disadari Bersama bahwa selama berpuluh-puluh tahun Industri Elektronika dari Manca Negara masuk ke Indonesia, namun tidak menghasilkan transformasi teknologi elektronik yang signifikan. Disadari oerientasi Industri Elektronika tersebut lebih cenderung menjadikan Indonesia sebagai Pasar bukan Basis Produksi. Padahal jika Industri Elektronika yang berinvestasi di Indonesia menjadikan Indonesia sebagai Basis Produksi, maka kebutuhan akan bahan baku berupa Logam Tanah Jarang dapat dipenuhi dari Dalam Negeri sendiri, sekaligus akan mendorong Tarnsformasi Teknolgi dan membuka Lapangan Kerja, sesuai dengan Rantai Nilai Industri berbasis Elektronik (atau dengan Bahasa lain Hilirisasi Industri berbasis Logam Tanah Jarang).   

Untuk menjamin kepastian dalam proses pemanfaatan logam tanah jarang untuk menyiapkan lompatan pembangunan diperlukan fasilitasi dan dukungan pemerintah serta harmonisasi antara Pemerintah, Swasta, Masyarakat termasuk Perguruan Tinggi.

 

Peraturan Perundang-undangan Terkait

Berdasarkan uraian hal tersebut di atas, wajib dilakukan apresiasi kepada Pemerintah Jokowi yang telah menetapkan beberapa Peraturan Perundangan terkait Logam Tanah Jarang, diantaranya yaitu: (i) UU No. 3 Tahun 2020 tentang Perubahan terhadap UU No. 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara; (ii) PP No. 27 Tahun 2020 tentang Limbah Khusus; (iii) PP No. 14 Tahun 2015 tentang rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035.

 

Urgensi Peraturan Perundangan untuk Hilirisasi Logam Tanah Jarang dan Material Kritis 

Kesadaran akan Logam Tanah Jarang (LTJ) dan Material Kritis sebagai bagian dari amanat UUD 1945, khususnya Pasal 33 yang menegaskan:

(2) cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara

(3) bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat

 

Pengalaman krisis LTJ dan Material Kritis pasca Maritime Dispute di LAut China Selatan (September 2010), ataupun Perang Dagang antara USA dan Tiongkok menyangkut LTJ dan Mineral Kritis, serta ketergantungan dunia akan impor LTJ dan Mineral Kritis dari Negara tertentu, seharusnya menjadi kesadaran Bersama bahwa kebutuhan akan penguasaan LTJ dan Material Kritis bukan sekedar teknis teknologis, melainkan sudah masuk ke dalam kesadaran akan Wawasan Nusantara, Posisi Geopolitik dan Geo Ekonomi Bangsa.


Logam Tanah Jarang dan Material Kritis yang didapatkan dari proses pertambangan atau pengolahan mineral ikutan dari Logam Dasar merupakan kekayaan alam dan Cabang Produksi yang penting dan berdampak pada hajat hidup orang banyak di era Industri 4.0 (dan era Recovery pasca pandemic). Untuk itu Kepentingan Nasional (Nasional Interest) menjadi alasan mendasar bagi pengelolaan LTJ dan Mineral Kritis ini.

Sumber: https://www.energy.senate.gov 

Berbagai negara yang memahami akan pentingnya LTJ dan material kritis, sudah mengagendakan bahkan mengesahkan berbagai Undang Undang (Act) untuk LTJ dan Critical Material. Kesadaran akan alih teknologi LTJ dan Critical Material melalui berbagai insentif investasi dari Manca Negara dengan sendirinya akan mendorong Indonesia menjadi negara kuat. Hilirisasi dan penerapan aplikasi LTJ, akan menyempitkan Gap terhadap Infrastruktur Digital pada Revolusi Industri 4.0 (dan era Recovery pasca pandemic), dan dengan sendirinya akan mendorong pemerataan akses Pendidikan melalui era digital.


Dengan kondisi di atas, 3 (tiga) Indikator dalam penyusunan Peraturan Perundangan, yaitu (i) Filosofis, (ii) Sosiologis dan (iii) Yuridis sudah dapat dipenuhi guna penyusunan Rancangan Undang Undang tentang Logam Tanah Jarang (LTJ) dan Critical Material sesuai dengan Amanat Pasal 33 UUD 1945.  


Jumat, 04 September 2020

CONTOH APLIKASI LOGAM TANAH JARANG (LTJ) UNTUK ENERGI BERSIH

Denny Noviansyah

LTJ di dalam tabel periodik merupakan kelompok lantanida yang memiliki anggota 17 unsur meliputi Lantanium (La), Cerium (Ce), Praseodimium (Pr), Neodimiuum (Nd), Prometium (Pm), Samarium (Sm), Europium (Eu), Gadolinium (Gd), Terbium (Tb), Disprosium (Dy), Holmium (Ho), Erbium (Er), Tulium (Tm), Iterbium (Yb), dan Lutetium (Lu), termasuk Scandium (Sc), Ytrium (Y).   

Tambahkan teks

Departemen Energi Amerika Serikat pada 2009, berturut-turut merilis cadangan LTJ dunia (ribuan ton) ; Cina (36.000), Negara pecahan Uni Sovyet, CIS (19.000), Amerika Serikat (13.000), Australia (5.400),  India (3.100), Brasil (48), dan Malaysia (30). Sementara itu, sumber-sumber LTJ di Indonesia tidak terkonsentrasi di satu lokasi namun menyebar di berbagai tempat. Ada tiga sumber utama dan sekunder LTJ di Indonesia. Pertama, mineral ikutan dalam mineral berat alluvial (monosit, senotim, dan ilmenit). Kedua, logam sampingan dalam terak peleburan timah atau nikel, tembaga. Ketiga, kondensat dari uap air geothermal discharge.

LTJ / REE digunakan juga sebagai bahan baku untuk Energi Bersih (clean Energy). Sebagai contohnya adalah penggunaan Neodymium Praseodymium (NdPr) dan YbF3:Eu

NdPr adalah Komponen Kunci untuk mendapatkan magnet permanen yang kuat. NdPr digunakan untuk Kendaraan Listrik, Turbin Angin, Peralatan Elektronik portable dan berbagai aplikasi industri lainnya.

 

Penggunaan NdPr dalam Aplikasi

 

 

 


Multifunctional compact layer SnO2/YbF3:Eu3+ (Lapisan Timah Oksida / Ytterbium Flouride yang didoping Europium) untuk Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) yang digunakan pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).  Penggunaan SnO2/YbF3:Eu3+ dapat dilihat pada gambar berikut ini: (Yue Jingji, et.al, 2017)


Penggunaan Yb dan Eu dalam PLTS

sumber:
Yue, Jingji, Enhanced photovoltaic performances of the dye-sensitized solar cell by utilizing rare-earth modified tin oxide compact layer, April 2017, dalam https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1566119917300289 diakses 4 September 2020
https://www.arultd.com/images/170914_Corporate_Presentation.pdf
https://seekingalpha.com/article/4124575-look-rare-earths-ev-magnet-metals-and-miners diakses 4 September 2020
Noviansyah, Denny. Logam Tanah Jarang. Bandung. 2019


               


Model Pengembangan Rantai Pasok Rumput Laut oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Guna Pemenuhan Kebutuhan Rumput Laut Dan Produk Turunannya

Denny Noviansyah Abstrak Indonesia sebagai negara Maritim mempunyai Panjang pantai seluas 95.181 km 2 . Pesisir pantai mempunyai berbagai je...